fajarnews

Elanda Fikri, Pemuda Asal Sumber Kab. Cirebon yang Sukses Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Redaksi : Rosyidi | Sabtu, 28 November 2015 | 11:30 WIB

-
Elanda Fikri (tengah).


Fajarnews.com, CIREBON- Elanda Fikri, warga Perumahan GSI Tukmudal, Sumber, Kabupaten Cirebon ini patut berbangga. Di usianya yang masih terbilang muda, 26 tahun, ia berhasil meraih gelar Doktoral untuk studi Ilmu Lingkungan dari Universitas Dipenogoro, Semarang.

Fikri mengaku, keberhasilannya meraih gelar doktor pada usia yang cukup muda itu, dilandasi semangat dan motivasi tinggi karena ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Untuk meraih gelar tersebut, menurut Fikri, dirinya harus merasakan rintangan dan tantangan yang cukup berat. Salah satunya, bisa menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang masuk dalam indeks.

“Dalam hati kecil saya berkata, ternyata tidak hanya pengetahuan, skill (pengetahuan, red) dan materi saja sebagai modal untuk studi doktoral, akan tetapi link (jaringan, red) juga sangat dibutuhkan guna memudahkan dalam menyelesaikan riset. Rintangan tersebut adalah harus bisa publikasi jurnal internasional terindeks. Ini adalah syarat mutlak lulus studi doktoral,” kata Fikri kepada “FC”, Jumat (27/11).

Aturan tersebut, diakui Fikri cukup membuat kewalahan, karena membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya, karya ilmiahnya diterima dan dipublikasi di jurnal tersebut. Fikri mengku sampai harus banyak mencari informasi, tips, dan trik untuk memecahkan rintangan tersebut. Syukurlah akhirnya, sebelum menjalani sidang tertutup untuk mempertahankan disertasinya, tiga karya ilmiahnya diterima di jurnal internasioanl terindeks yakni pada jurnal India dan Belanda.

“Pengalaman yang saya dapatkan ketika mengambil program doktor, khususnya Doktor Ilmu Lingkungan ini sangta banyak. Beberapa pengalaman bahkan saya dapatkan ketika menjalani riset. Di program doktoral ini, riset dilakukan secara komprehensif sampai menemukan kebaruan (novelties, red),” ujar Fikri.

Menurut Fiki, risetnya dilakukan selama dua tahun. Saat riset itulah, ia menemukan konsep baru, yakni memadukan konsep life cycle assessment (analisis daur hidup) dengan stakeholder analysis (SA), dalam mengelola sampah bahan beracun dan berbahaya atau dikenal dengan B3.

“Konsep ini sangat baik jika diaplikasikan karena dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 14,59 persen. Selain itu pengalaman lain saya dapatkan ketika menjalani studi doktoral adalah, belajar bagaimana bersikap arif dan bijak pada lingkungan. Itu yang terpenting,” ujarnya.

Fikri mengaku ia awalnya tertantang saat mengetahui ada seleksi beasiswa S3 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

“Akhirnya dengan modal nekat dan keinginan yang kuat, saya menjalani seleksi beasiswa tersebut dan di tahun 2012 saya berhasil meraih beasiswa itu,” kata pemuda yang sukses menyelesaikan program doktoralnya dalam waktu tiga tahun, 2012-2015, tersebut.

Sebelum menempuh program doktoral, Fikri menyelesaikan program S2 dan meraih gelar Lingkungan Hidup di univeristas yang sama, selama satu tahun.

“Sebagai anak tunggal, apalagi yang dapat saya berikan selain memberikan kebahagian dan kebanggaan pada orang tua,” pungkasnya. 

 

WINARNO

Loading Komentar....