fajarnews

Kadisdik Bertekad Kembalikan Rombel Sesuai Standar 

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 20 April 2017 | 08:15 WIB

 

Fajarnews.com, CIREBON- Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Cirebon, H Jaja Sulaeman bertekad akan mengembalikan jumlah rombongan belajar (rombel) sesuai standar.

Artinya, tiap sekolah akan menerima peserta didik baru sesuai jumlah kelas yang ada serta akan menginstruksikan juga untuk mengembalikan Ruang Penunjang Lain (RPL) sesuai fungsi awalnya. 

“Saat ini kami sedang merevisi dan merancang peraturan wali kota (Perwali) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sesuai keadaan kelas. Juga meminta kepala sekolah (kepsek) untuk mengembalikan RPL, seperti laboratorium, perpustakaan, ekstrakurikuler seperti fungsinya yang awalnya dipakai tempat belajar,”  kata Jaja kepada fajarnews.com, Rabu (19/4).

Ia mengaku, saat ini Perwali PPDB masih dirancang, akan tetapi kuota jumlah peserta didik mungkin tak jauh berbeda dengan tahun lalu.

Untuk jalur prestasi akan disediakan kuota10 persen, keluarga miskin (gakin) sekitar 20 persen dan sisanya sekitar 70 persen diperuntukkan jalur akademis atau nilai Ujian Nasional (UN). 

“Apabila ada salahsatu sekolah mendaftar melalui jalur gakin atau prestasi, akan tetapi apabila melebihi batas kuota maka kami tidak akan menerimanya. Kami akan mengalihkan lebihan itu ke sekolah yang masih kurang, baik negeri ataupun swasta,” bebernya. 

Ia menjelaskan, kedua jalur tersebut nantinya akan diseleksi lagi peserta didik mana yang lebih prioritas. Bahkan, dirinya akan menghapus kuota pendaftaran peserta didik dari luar Kota Cirebon, akan tetapi semua pendaftar harus ikuti jalur secara ketat, tanpa kecuali. 

“Melalui pengembalian kuota sesuai jumlah yang telah ditetapkan dalam Perwali, maka saya yakin tidak ada lagi sekolah yang mengalami kelebihan dan kekurangan jumlah peserta didik,” ucapnya.

Bahkan, lanjut dia, dirinya akan menghapus kebijakan pembatasan peserta didik dari luar Kota Cirebon. Hal itu agar sejumlah sekolah baik negeri ataupun swasta tidak kekurangan peserta didik lagi.

“Selain itu kami juga akan menormalkan lagi jumlah satu rombel. Akan dinormalkan kembali menjadi 36 peserta didik,” akunya.

Lebih lanjut dia mengatakan, apabila ada salahsatu sekolah yang dulu menerima peserta didik hingga 11 kelas namun ada ruang laboratorium, perpustakaan dan ruang kegiatan, maka sekolah tersebut dipotong tiga kelas. Sehingga sekolah tersebut hanya menyediakan delapan kelas atau rombel saja.

“Kita harus bicara tentang kualitas yang kemarin, salahsatu contohnya di sains yang menurun prestasi. Padahal banyak potensi yang pintar, seperti yang terjadi di SMPN 1, SMPN 5, SMPN 2 dan SMPN favorit lainnya,” ucapnya. 

Ia mempertanyakan bagaimana bisa nyaman apabila beberapa kelas menumpuk peserta didiknya dan itu juga menambah beban guru semakin berat, sehingga tak efektif juga. Dengan mengambil prinsip pendidikan berkeadilan, maka dirinya yakin tak akan terjadi lagi tidak meratanya pendidikan. 

Saat ditanya apabila ada beberapa orang yang tetap ngotot dan memaksa untuk memasukkan peserta didik di sekolah yang diinginkan, Jaja meminta kepada semua pihak agar jangan memaksa kehendaknya, karena yang rugi anaknya sendiri.

“Kasihan anak kalau dari awal sudah dititipkanKalau tak diawali sekarang mau sampai kapan. Makanya saya tak akan menerima titipan PPDB,” ucapnya. 

Ia menambahkan, masyarakat sudah semakin melek karena kualitas sekolah sudah menjadi ukuran, bukan hanya sekolah negeri saja akan tetapi swasta juga.  “Kita lihat saja SMP Al-Azhar dan Al-Irsyad sudah menerima peserta didik sesuai kuota, bahkan sudah ditutup tak ada pendaftaran lagi. Dengan pendaftaran PPDB secara ketat, prestasi bisa lebih baik lagi,” tandasnya. (Winarno)

Loading Komentar....