fajarnews

SDN Kartini Kota Cirebon Dulu Tempat Sekolah Anak Bangsawan

Redaksi : Andriyana | Jumat, 21 April 2017 | 00:23 WIB

VIAN
SDN Kartini Kota Cirebon termasuk salahsatu sekolah yang memiliki nilai sejarah perjuangan bangsa tempo dulu.

 

Fajarnews.com, CIREBON - Telinga masyarakat Kota Cirebon pasti sudah sangat akrab dengan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kartini Kota Cirebon. Letaknya yang strategis dan tidak jauh dari lokasi Masjid Agung At-Taqwa Cirebon ini memudahkan setiap mata untuk menemukan keberadaannya.

SDN Kartini yang terletak di Jalan Kartini, Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon ini mempunyai sejarah panjang dalam kontribusinya di dunia pendidikan Indonesia.

Di balik bangunan kokoh yang berdiri sejak satu abad lalu ini, tergambar jejak-jejak sejarah perjuangan orang-orang terdahulu dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya Kota Cirebon.

Dengan usia yang sudah tidak muda lagi ini, SDN Kartini tentunya telah menetaskan banyak generasi dalam meneruskan perjuangan bangsa.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun fajarnews.com, SDN Kartini Cirebon ini merupakan satu-satunya SD yang menyandang predikat negeri dari tiga SD Kartini yang ada di Pulau Jawa yaitu di Semarang dan Jepara.

Konon, SDN Kartini ini awalnya didirikan oleh keluarga Belanda di bawah naungan Yayasan Abendanon yang diperuntukkan untuk tempat belajar putri-putri bangsawan, pemerintahan, keluarga keraton dan anak-anak belanda.

Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Indonesia menjadikan SD Kartini ini sebagai sekolah negeri, karena lokasinya yang berada di tanah milik pemerintah, sejak saat itu SD Kartini ditetapkan dengan nama SDN 2 Kota Cirebon dan hari ini dikenal dengan nama SDN Kartini Cirebon yang terdiri dari I, II, IV dan V.

Kepala SDN Kartini 2 Cirebon, Moh. Sanusi mengatakan, menurut beberapa keterangan SD Kartini ini berubah menjadi SD negeri ketika Wedana Cirebon pada waktu itu ditarik ke Belanda oleh Yayasan Abendanon, maka dengan begitu semua kepemilikan dan kepengurusan diserahkan kepada perintah Indonesia.

“Oleh sebab itulah SD Kartini ini menjadi sekolah negeri, berbeda dengan SD Kartini yang ada di daerah lain. SD kartini yang ada di daerah lain masih menginduk ke Yayasan Abendanon yang ada di Belanda, sampai hari ini,” katanya saat ditemui fajarnews.com, Senin (17/4).

Mengenai SDN Kartini ini, lanjut dia, pada awalnya bangunan sekolahnya tidak seperti ini lebih cenderung klasik, gaya bangunannya pun masih khas dengan bangunan tempo dulu, seperti bangku, meja lemari dan perlengkapan lainnya.

“Kurang lebih sudah 15 tahun saya mengabdi di SDN Kartini ini, saya tahu persis bagaimana bangunannya dulu. Karena usia sekolah yang sudah tidak muda lagi, saya pun mencari informasi tentang SDN Kartini. Terakhir saya mendapatkan bahwa SDN Kartini ini tidak terdaftar sebagai Cagar Budaya pada waktu itu, barulah akhirnya saya berkeinginan untuk merenovasi bangunan sekolah hingga seperti saat ini,” katanya.

Barulah setelah itu, kata dia, bersama dengan Ibu Yeyet yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Sekolah mengajukan proposal untuk merehab ulang SD Kartini. SD ini menjadi satu-satunya SD Kartini yang bangunannya sudah dibeton ulang karena memang mendapat restu dan izin dari pemerintah daerah pada waktu itu.

“Pada saat renovasi saya melakukan kontrol serius, dan semua pengerjaan dilakukan di sekolah. Karena banyak kayu-kayu jati yang memang pada saat itu harganya sedang melambung tinggi, takut disalah gunakan, jadi kami berjibaku di sekolah. Kayu-kayu jati itulah yang hari ini dijadikan kusen dan jendela serta pintu sekolah, makanya untuk pintu dan jendela masih bernuansa klasik,” katanya.

Menginjak usia yang ke 101 ini, kata dia, semoga SDN Kartini ini terus melahirkan generasi-generasi yang berkarakter. Semoga siswa-siswi di SDN Kartini menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk bersaing dan menikmati setiap proses pendidikan secara bertahap dan bukan instan.

VIAN

Loading Komentar....