fajarnews

Minat Baca Indonesia Urutan Kedua di Bawah

Redaksi : Iwan Surya Permana | Selasa, 16 Mei 2017 | 08:15 WIB

Winarno
Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpusnas RI, Deni Kurniadi (kiri) memberikan cinderamata kepada Wali Kota Cirebon, Nasrudin Aziz di Aula Perpustakaan 400, Senin (15/5).*

 

Fajarnews.com, CIREBON- Central Conecticut State University melakukan survei minat baca di 61 negara. Hasilnya sangat mengejutkan, karena kondisi minat baca di Indonesia berdasarkan penilaian tingkat literasi masyarakat Indonesia tersebut berada di peringkat 60 dari 61 negara atau urutan kedua di bawah. 

Sementara itu berdasarkan Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan tiap tiga tahun sekalian boleh OECD tahun 2015, minat baca di Indonesia berada di peringkat 69 dari 76 negara dengan skor membaca dibawah rata-rata, yaitu 396.

Hal itu dikemukakan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando melalui Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpusnas RI, Deni Kurniadi pada Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2017 di Aula Perpustakaan 400 Kota Cirebon, Senin (15/5).

“Rendahnya kegemaran membaca disebabkan oleh beragam aspek, dan faktanya adalah karena masyarakat Indonesia berbudaya tutur. Dimana bentuk pertukaran informasinya masih secara lisan,” kata Deni Kurniadi. 

Lebih lanjut Deni mengatakan, semua informasi, gagasan dan pengetahuan hanya disimpan dalam ingatan seperti dapat dilihat di kedai kopi, stasiun, bandara atau area publik lainnya. Di setiap lokasi lebih sering melihat orang mengobrol dari pada membaca. 

“Secara langsung maupun tak langsung kebiasaan membaca menjadi salahsatu indikator kualitas bangsa. Saya melihat angka melek huruf di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu baru 88 persen,” bebernya. 

Sedangkan di negara maju seperti Jepang, lanjut dia, angka tersebut sudah mencapai 99 persen. Menurutnya, sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasaan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf. 

Ia menerangkan, saat ini Indonesia sedang mengalami transformasi yang hebat dalam penggunaan teknologi informasi. Dirinya pun mengutip survei Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia menyebutkan bahwa pada 2014 sebanyak 88,1 juta orang dan di tahun 2016 telah meningkat 50, 5 persen menjadi 132,7 juta orang. 

“Tapi sangat disayangkan saat ini penggunaan konten atau isi digital yang digunakan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh games sebesar 44 persen, aktivitas sosial sebanyak 12 persen, alat kontrol atau tool sebesar 9 persen, fotografi 9 persen, musik 6 persen, bisnis sekitar 3 persen,” ungkapnya. 

Namun penggunaan sosial untuk membaca buku, kata dia, hanya sebesar 3 persen. Karenai itu melalui kegiatan Gerakan Nasional Gemar Membaca bertajuk Implementasi Revolusi Mental Melalui Gerakan Nasional Gemar Membaca Dalam Rangka Meningkatkan Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat tersebut pihaknya ingin mengajak masyarakat untuk giat membaca. 

“Untuk mencapai masyarakat yang memiliki kegemaran membaca, maka dibutuhkan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah secara terprogram, terarah dan berkelanjutan. Itu melalui kegiatan promosi agar masyarakat lebih mengerti arti pentingnya perpustakaan dan membaca bagi kehidupan,” jelasnya. 

Ia menjelaskan, sampai saat ini pemerintah pusat dan di beberapa daerah dan berbagai komponen masyarakat telah melakukan gerakan pengembangan perpustakaan, taman bacaan dan sejenisnya. Seperti “Kuda Pustaka” di Purbalingga, “Kapal Pustaka” di Sulawesi Barat dan Angkot Pustaka di Bandung. 

“Bahkan beberapa pemerintah daerah, masyarakat telah melakukan kiat-kiat dan kegiatan strategis sebagai terobosan yang dilakukan untuk membangun masyarakat yang berbudaya baca,” akunya. 

Pada era digital sekarang ini, kata dia, Perpusnas hadir dalam layanan perpustakaan digital melalui fitur iPusnas yang dapat diakses melalui Multi Operating System (Android, IPS ataupun Windows) dan multidevice melalui smartphone, tablet, atau dekstop. 

Ia menambahkan, aplikasi perpustakaan digital ini menggabungkan fitur membaca buku digital dan berinteraksi melalui media sosial. 

“Mari kita mulai tingkatkan baca kita, hal itu untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi dan kemandirian ekonomi serta demi kemajuan bangsa,” pungkasnya. (Winarno)

 

Loading Komentar....