fajarnews

40 Dosen Unswagati Ikuti Pelatihan Penulisan Proposal Ilmiah

Redaksi : Andriyana | Rabu, 7 Juni 2017 | 22:24 WIB

WINARNO
Kepala Badan Lemlit Unswagati, Endang Sutrisno (atas kanan) didampingi Rektor H Rochanda Wiradinata (tengah) menyampaikan pelatihan penulisan jurnal ilmiah, Rabu (7/6).

Fajarnews.com, CIREBON - Sebanyak 40 dosen Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengikuti pelatihan penulisan proposal hibah Dikti tahun 2017 di salahsatu hotel Kota Cirebon, Rabu (7/6).

Pelatihan tersebut merupakan upaya Lembaga Penelitian (Lemlit) Unswagati memberikan pembekalan tentang teknis proposal hingga pengajuan ke Dikti.

Kepala Badan Lemlit Unswagati, Endang Sutrisno mengatakan, melalui pelatihan tersebut dirinya berharap dosen Unswagati bisa mengambil peran lebih. Karena, pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di era globalisasi ini.

“Sebetulnya para dosen memiliki pengalaman, hanya kurang informasi format penelitian saja. Sehingga mereka butuh struktur atau format penelitian hibah Dikti,” kata Endang saat ditemui fajarnews.com usai kegiatan.

Dalam pelatihan penulisan ilmiah tersebut, kata dia, Lemlit Unswagati mendatangkan dosen Universitas Sebelas Maret dengan memberikan format atau struktur penelitian ilmiah yang nantinya bisa diajukan pada hibah Dikti.

“Kami hanya berupaya untuk meningkatkan SDM dosen bidang penelitian dan berharap bisa mengajak para dosen lakukan riset,” imbuhnya.

Selain itu, Lemlit Unswagati juga berencana akan bertemu dengan Komisi III DPR RI untuk membahas penelitian di Wilayah 3 Cirebon tentang masalah Aerocity atau Cirebon Raya. Dalam pertemuan itu, Unswagati bisa memberikan kontribusi apa guna kemajuan pembangunan. 

“Akhir tahun juga Insya Allah Unswagati sudah Open Jurnal System (OJS) semua, tapi hal itu tergantung masing-masing fakultas,” tuturnya.

Sementara itu Rektor Unswagati Cirebon, H Rochanda Wiradinata menyatakan, hari ini sebuah perguruan tinggi yang dibangun itu harus berbasis riset. Hasil penelitian juga dituntut harus bermanfaat baik diri sendiri dalam peningkatan akademisinya dan masyarakat.

“Dulu penelitian itu selalu terkendala masalah dana penelitian, tapi sekarang dana miliaran bahkan triliunan yang dibiayai pemerintah,” ucapnya.

Selain itu, kata Djohan, manfaat penelitian adalah bisa meningkatkan peringkat akreditasi atas publikasi yang dikeluarkan dosen. Apalagi karya dosen itu dipublikasikan di jurnal nasional atau internasional yang terakreditasi.

Lebih lanjut lagi kata Djohan, Kemenristekdikti pun mengimbau bahwa bahan ajar bukan hanya dari buku saja, akan tetapi sebagian dari penelitian dari dosen. Sehingga para mahasiswa pun termotivasi untuk melakukan penelitian.

“Unswagati juga ada Program Riset Unggulan Unswagati (RUU) dari 4-25 juta, dan dana intensif publikasi ilmiah,” katanya.

Hal tersebut sambung dia, guna mendorong para dosen untuk lebih giat lagi melakukan penelitian dan harus dipublikasikan karyanya. “Bahkan, Unswagati juga sudah mengadakan kerjasama dengan sembilan perguruan tinggi di luar negeri khususnya penelitian,” tandasnya.

WINARNO

Loading Komentar....