fajarnews

Banyak Siswa Berprestasi Gagal Masuk Sekolah Favorit

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 6 Juli 2017 | 09:25 WIB

Vian
Membludaknya minat orang tua yang menginginkan anaknya diterima di SMPN 1 Kota Cirebon membuat mereka rela antre hingga berjam-jam menunggu giliran mendaftar, Rabu (5/7).*

 

Fajarnews.com, CIREBON- Penerapan sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SLTP pada tahun ajaran 2017/2018 di Kota Cirebon, tidak langsung bisa dirasakan manfaatnya khususnya bagi sekolah yang selama ini dianggap favorit.

Pasalnya, mereka banyak mendapat tekanan, kecaman dan kekecewaan dari para orang tua siswa yang anaknya gagal mendaftar di sekolah yang dianggap favorit tersebut, karena terbentur aturan zonasi tersebut.

Hal itu dikemukakan Ketua Panitia PPDB SMPN 4 Kota Cirebon, Ari Aryadi, terkait penerapan sistem zonasi untuk kali pertama tersebut. Menurut Ari, dampak dari singkatnya waktu sosialisasi ke masyarakat, membuat banyaknya orang tua yang masih menanyakan keseriusan pelaksanaan ketentuan tersebut.

Bahkan, terkadang ada juga orang tua murid yang sampai marah-marah dan memukul (menggebrak) meja pendaftaran, karena anaknya gagal masuk akibat aturan zonasi.

“Dengan adanya zonasi ini, banyak siswa berprestasi yang tidak masuk dalam zonasi sekolah unggulan atau favorit, tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke sekolah tersebut. Ini tentu menimbulkan kekecewaan karena siswa merasa dibatasi dalam mengejar prestasi dan cita-citanya,” kata Ari, saat ditemui fajarnews.com, Rabu (5/7).

Namun, lanjut Ari, pada sisi lain beberapa masyarakat memang merasa memiliki peluang besar untuk masuk di sekolah yang tergolong favorit dan unggulan yang pada tahun-tahun sebelumnya kecil peluangnya untuk bisa mereka tembus. Sisi positif lain penerapan zonasi, menurut Ari, adalah adanya pemerataan, sehingga tidak ada lagi sekolah yang melebihi kapasitas wajar dalam penerimaan siswa baru.

“Dalam hal pembatasan jumlah siswa yang diterima, kami mengikuti peraturan yang sudah ada, yaitu setiap kelas maksimal 32 siswa dan ruang kelasnya maksimal 11. Jika melanggar, dampaknya anak tersebut tidak bisa mengikuti ujian nasional dan sertifikasi sekolah tidak akan diakui. Akibatnya BOS tidak akan diberikan,” katanya.

Dikatakan Ari, selama melaksanakan PPDB ini, mereka kerap mendapatkan komplain dari orang tua siswa yang belum paham dan bahkan tidak mengerti tentang sistem zonasi tersebut.

“Berarti ini kan pertanda bahwa ada sosialisasi yang tidak selesai di tingkat masyarakat,” ujarnya.

Meskipun begitu, lanjut ari, pihaknya tidak menolak untuk menginformasikan sistem baru tersebut.  “Sebagai panitia, kami mencoba menjelaskan dan memberikan pemahaman secara baik, meskipun terkadang kami mendapat perlakuan yang kurang baik. Jika pun pada akhirnya mereka tetap tidak terima, kami mengarahkan secara baik untuk bertanya atau menghadap ke pihak berwenang yaitu Dinas Pendidikan Kota Cirebon,” katanya.

Kedepannya, Ari berharap, agar bisa dilakukan sosialisasi yang matang dan mencari solusi atas beragam permasalahan yang sudah ada, serta memperhatikan fasilitas penopang setiap program yang akan dilaksanakan, sehingga semua bisa berjalan lancar dan seirama.

Sementara itu, salah satu orang tua murid, Agus Witanto mengatakan, sistem zonasi tersebut cukup bagus. Pasalnya, dengan sistem zonasi, kesempatan untuk masuk ke sekolah terdekat dan favorit jadi lebih besar.

“Selain itu juga, jarak antara sekolah dan rumah itu tidak terlalu jauh, kalau memang sistem ini ditegakkan seharusnya anak saya nanti bisa masuk karena semua persyaratan sudah terpenuhi,” kata Agus.

Orang tua murid yang lain mengatakan, bahwa sistem ini sedikit membebaninya, karena kurang paham dan akhirnya harus bolak-balik mengurus Kartu Keluarga (KK) karena ada ketidakcocokan.

“Saya merasa kasihan juga dengan anak saya, yang harus menunggu waktu untuk proses pendaftaran PPDB,” ungkapnya.

Sementara itu terpisah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMPN Kota Cirebon, Lilik Agus Darmawan mengakui adanya ada penumpukan pendaftaran di zona satu seperti SMPN 1, SMPN 2 dan SMPN 5 serta di zonasi dua yaitu SMPN 4 dan berbeda dengan zonasi lima seperti SMPN 18 yang sedikit pendaftarnya.

Namun dirinya meyakini sekolah-sekolah lain akan terpenuhi pula mengingat tak semuanya pendaftar akan masuk di sekolah yang berada di tengah kota.

“Saya kira meski terjadi perbedaan pendaftar antara SMPN 5, SMPN 1 dengan SMPN 18, tapi pendaftaran belum final karena baru dilaksanakan tiga hari. Saya yakin nanti SMPN yang kosong akan segera terisi kuotanya,” kata Lilik Agus Darmawan saat ditemui fajarnews.com di kantor PGRI Kota Cirebon, Rabu (5/7).

Lilik pun optimis dengan sistem zonasi ini tidak terjadi lagi kekurangan atau kelebihan jumlah murid di sejumlah sekolah.

“Saya prediksikan bisa terpenuhi karena Dinas Pendidikan (Disdik) sudah memetakan soal lulusan SD dan jumlah peserta didik yang mendaftar,” tandasnya. (Vian)

Loading Komentar....