fajarnews

Tingkatkan APK di Kota Cirebon, 14 SMA Buka SMATER

Redaksi : Andriyana | Senin, 14 Agustus 2017 | 08:00 WIB

WINARNO
Wakasek Kurikulum SMAN 4, H Ahmad Saefudin tengah menunjukkan kertas persyaratan dibukanya SMATER, kemarin

Fajarnews.com, CIREBON - Gubernur Jawa Barat (Jabar) menginstruksikan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk membuka SMA Terbuka atau disingkat SMATER dalam rangka peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) di Jabar. Sasaran SMATER sendiri diperuntukkan bagi peserta didik yang menginjak usia 16-21 tahun yang memiliki kasus sosial dan budaya tinggi, ekonomi rendah, letak geografis dan rawan bencana.

Sebanyak 14 SMA di Kota Cirebon yang akan siap membuka SMATER yaitu SMAN 1 sampai SMAN 9, SMA Windu Wacana (Wina), SMA Widya Utama (Widut), SMA Syarif Hidayatullah (Sahida), SMA Taman Siswa (Tamsis) dan SMA Nuurushiddiiq. SMATER sendiri akan dibuka pada hari ini (14/8) hingga akhir Agustus mendatang.

Wakasek Kurikulum SMAN 4, H Ahmad Saefudin mengatakan, tahun ini SMATER baru dibuka mengingat APK di Jabar masih sangat rendah. Gubernur Jabar melalui surat Keputusan Kadisdik Jabar nomor 423.1/23591 tentang sekolah induk penyelenggara pendidikan jarak jauh (PJJ) SMATER Jabar.

“Surat keputusan melalui Bidang Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Disdik Jabar telah membuka SMATER di Jabar, termasuk Kota Cirebon,” kata Ahmad Saefudin saat ditemui fajarnews.com di ruang kerjanya, Sabtu (12/8).

Ia menjelaskan, sasaran SMATER ini diperuntukkan bagi remaja yang berasal dari daerah yang kasus sosial dan budaya yang tinggi. Seperti banyak anak jalanan, narkoba, broken home, termasuk keluarga yang memiliki ekonomi rendah sehingga tak bisa sekolah.

Kemudian sasaran lainnya, kata dia, letak geografis, seperti daerah perbatasan, terpencil yang jauh dari sekolah, sehingga tak melanjutkan sekolah dan terakhir daerah yang rentan bencana alam, seperti berada di daerah gunung meletus, gempa bumi dan lain-lainnya.

Dari permasalahan tersebut, lanjut dia, SMATER tak seperti sekolah formal yang harus belajar setiap hari. Tapi tetap harus tiga tahun ikuti SMATER seperti sekolah formal. “SMATER metode pembelajaran 80 persen datang atau online, dan bimbingan tatap muka 20 persen,” tambahnya.

Saat disinggung terkait SMATER di Kota Cirebon, Ahmad menjelaskan, bahwa APK Kota Cirebon mencapai 97 persen, sehingga tak diwajibkan membuka SMATER. Berbeda dengan daerah Sukabumi, Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupatan Indramayu yang APK-nya masih dibawah 50 persen ke bawah.

Jadi, lanjut dia, daerah tersebut harus wajib membuka SMATER. “Dan kebetulan APK Kota Cirebon sudah 97 persen, kalau tak buka juga tidak apa-apa,” ucapnya.

Meski demikian, kata Ahmad, ada sekitar 400 usia sekolah yang belum memiliki ijazah SMA. Untuk itu, semua sekolah akan mencari ke sejumlah kelurahan di mana 400-an anak itu yang belum sekolah.

“Hanya saja persoalannya angka tersebut didapat dari data Disdik tahun 2015 dan ditambah kami tak tahu keberadaan anak sekolah tersebut tinggal, sehingga harus dor to dor setiap kelurahan,” bebernya.

Ia mengakui mencari anak berusia yang belum memiliki ijazah SMA kemungkinan sangat susah. Sehingga pihaknya harus mencari data ke kelurahan dan menelusurinya ke kelurahan-kelurahan. “Kami juga sosialisasi dengan guru, kecamatan dan kelurahan dan terjun ke kampung-kampung. Tapi orangtua belum tentu mau juga, jadi ini tantangannya,” ujar dia.

Saat dikonfirmasi terkait dibukanya SMATER ini dalam rangka untuk menarik peserta didik “titipan” yang belum sekolah, dirinya membantah bahwa dibuka SMATER untuk siswa tersebut. Sebab, sasaran dan tujuan dibukanya sekolah ini berbeda dengan sekolah formal.

“Ditambah pula ketika sudah terdaftar di SMATER, maka tak boleh pindah ke sekolah formal, karena data pokok kependidikan (dapodik)-nya berbeda,” jelas Saefudin.

Ia membeberkan, SMATER merupakan sekolah yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari sekolah induk. Termasuk pengelolaannya dari sekolah tersebut, termasuk sarpras, modul pembelajaran dan lain sebagainya.

Lebih lanjut lagi dia mengatakan, adapun pembiayaan SMATER sendiri nanti akan diberikan dari bantuan operasional sekolah (BOS) sekitar Rp 1,4 juta rupiah persiswa dan mendapatkan tambahan dari APBD Provinsi Jabar sekitar Rp 700 ribu rupiah. “SMATER ini telah dibuka sejak 2014 Cianjur dan Sukabumi. Dan tahun ini akan digelar oleh daerah yang memiliki APK masih rendah,” imbuhnya.

Namun ketika akhir Agustus nanti dari 14 SMA tersebut hanya memiliki siswa kurang dari 20. Maka, lanjut dia, kemungkinan besar akan disatukan, karena sekolah induk tersebut harus membuka SMATER minimal diisi 20 siswa.

“Bisa saja nanti akan diberikan ke SMA swasta mengingat sekolah swasta telah meminta agar SMATER jangan dibuka di sekolah negeri. Lebih baik di swasta, karena PPDB kemarin kurang peserta didik," pungkasnya.

WINARNO

Loading Komentar....